Nikah

peer group (teman gaul, sahabat dll)...Antara demokrasi dan nikah? Apa yang ada diantara keduanya? Bingung? Sama! Karena sebenarnya memang tidak ada yang terjadi diantara keduanya. Tapi terlepas dari ada tidaknya sesuatu antara demokrasi dan nikah, rasanya selain demokrasi, mungkin nikah adalah kata yang paling popular abad ini. Atau jika tidak diabad ini setidaknya itulah yang terjadi disekeliling saya. Jika di kampus, saya akan disuguhi oleh beragam wacana dan doktrin sosial-politik, budaya materialisme ataupun hedonisme yang selalu menari-nari dengan riangnya, sehingga nikah menjadi sangat jauh bahkan tidak dimasukkan kedalam agenda kehidupan. Maka di peer group saya yang lain, nikah menjadi pembicaraan yang selalu hangat untuk disuguhkan, bahkan ditunggu-tunggu layaknya segelas capucino hangat ditengah dinginnya suasana hujan…hehe..hiperbolis

Mungkin wacana nikah yang kencang dihembuskan oleh peer group tersebut (sebut saja peer group x) terjadi karena telah adanya pemahaman yang bulat bahwa pernikahan adalah penyempurna hidup. Dengan menikah berarti hidup sudah sempurna menjadi satu, bukan lagi setengah. Dengan menikah berarti salah satu variabel untuk menjadi bagian dari umat muhammad telah terpenuhi

Nikah rasanya jika tangan ini diangkat setingginya pun belum cukup menggambarkan rasa setuju saya bahw nikah adalah penyempurna hidup, setidaknya di dunia. Nikah yang merupakan salah satu dari 2 mitsaqan ghaliza, menjadikan saya begitu mensakralkan dan mengagungkan sebuah pernikahan, tidak hanya proses pernikahan ataupun yang terjadi selama sebuah pernikahan berjalan, tapi juga dari niat atau motif yang ada dari pra pernikahan.

Terus terang saya bosan mendengar kalimat : “ah, dia berkacamata! Mmmm kalo bisa yang oriental n tinggi!...maunya sih anak kedokteran...”. Atau si A kurang tinggi, si B terlalu aktivis jadi gimana gitu, si C terlalu gemuk, maunya yang agak kurusan, coba si D gak tembem pipinya, pendidikan G Cuma SMA, kerjaan H mapan gak ya?” dan masih banyak alasan yang bisa diungkapkan sampai Z. atau yang paling didambakan : “gak macem2, ane Cuma mau yang seperti khatijah berumur aisyah!” aha, ke laut aja mas!

Tidak ada yang salah karena memiliki kriteria. Kriteria adalah satu keniscayaan. Namun manusia tidak hidup dengan kriteria, tapi dengan kenyataan dimana kriteria yang didambakan belum tentu didapatkan. Ngapain juga kita berlelah2 untuk berkutat dengan kriteria dambaan kita, padahal kita belum tentu menjadi kriteria dari orang yang menjadi kriteria kita. Have you think that?

Semoga kita smua bisa menjaga diri kita dari paradigma2 sesat yang selalu menari riang disekitar kita..amien…

Tidak ada komentar: